Update: Untuk mendapatkan berita-berita terupdate website marzukialie.com bisa men update melalui twitter kami @marzukialie dan untuk komunikasi langsung dengan Dr. H. Marzuki Alie bisa melalui twitter kami @marzukialie_MA
profile marzuki alie Demokrat

TULISAN

Pilkadasung Versi DPRD: Telaah Kritis Demokrasi dan Biaya Politik
Oleh : Dr. H. Marzuki Alie
PROFESIONALISME DIREKSI ASDP DAN JERATAN HUKUM
Oleh : Dr. H. Marzuki Alie
GERAKAN EFISIENSI NASIONAL
Oleh : Dr. H. Marzuki Alie
MINTA MAAF DAN MUNDUR?
Oleh : ir.KPH. Bagas Pujilaksono Widyakanigara, M.Sc.,Lic.Eng.,Ph.D
KONSISTENSI BERPOLITIK
Oleh : ir.KPH. Bagas Pujilaksono Widyakanigara, M.Sc.,Lic.Eng.,Ph.D

PENCARIAN

ALBUM


DAPATKAN BUKU YANG SUDAH DITANDATANGANI OLEH MARZUKI ALIE untuk palestine Liga Pendidikan Indonesia

MA MENJAWAB

Rakyat Merdeka

Rakyat Merdeka, Selasa, 08 Desember 2009, 00:06:30 WIB

Marzuki Alie, Saya Mundur Bukan Karena Didesak

Bertepatan dengan Rapimnas Partai Demokrat akhir pekan lalu, Marzuki Alie harus menanggalkan jabatan sekjen yang telah disandangnya selama hampir lima tahun.

Ketua DPP bidang Hukum dan HAM, Amir Syamsuddin ditunjuk menjadi pengganti Marzuki. Pergantian ini cukup mengejutkan karena tak lama lagi Partai Demokrat menggelar kongres. Salah satu agenda kongres adalah pergantian pengurus DPP.

Dari sini muncul rumors bahwa hubungan Marzuki dan Ketua Umum Hadi Utomo sudah tak harmonis. Keduanya berbeda pendapat mengenai pengisian posisi pimpinan komisi dan alat kelengkapan DPR.

Benarkah Marzuki mundur karena hubungannya dengan Hadi Utomo sudah tak harmonis lagi? Benarkah Marzuki berambisi menggantikan posisi Hadi Utomo di kongres nanti? Berikut penjelasan Marzuki.
Kongres Partai Demokrat tinggal beberapa bulan lagi, kenapa Anda memutuskan mundur sekarang?
Sebelumnya saya berpendapat bahwa rangkap jabatan bukan hal yang sulit untuk dijalankan. Sebulan pertama sebagai ketua DPR, dinamika politik demikian tinggi. Muncul banyak masalah akibat suhu politik yang kian memanas. Saya yang diberi amanah sebagai ketua DPR merasa memiliki tanggung jawab pribadi.

Tak bisa dipungkiri bahwa sekjen merupakan jabatan yang penting untuk menggerakkan organisasi. Kalau tetap memaksakan diri untuk memegang jabatan sebagai sekjen partai dan juga ketua DPR, dikhawatirkan salah satu akan terbengkalai atau mungkin kedua-duanya. Apalagi, semua kader sangat berharap besar di pemilu yang akan datang, partai kami tetap men­jadi juara. Untuk itu agar tugas di DPR tetap bisa berjalan dan mesin partai bisa bergerak efektif, saya berinisiatif untuk mundur dari sekjen.

Kenapa saya mundur sekarang padahal kongres tinggal beberapa bulan lagi? Alasannya karena pemilihan kepala daerah di beberapa wilayah akan dimulai. Di pilkada, meski yang berperan adalah pengurus partai tingkat daerah tapi tetap harus berkoordinasi dengan pusat. Peran sekjen sangat diperlukan untuk mengurus pilkada. Karena itulah saya memilih mundur agar mesin politik partai tetap berjalan efektif.

Sejak kapan muncul pikiran untuk mundur?
Sejak sebulan lalu. Saya sudah menyampaikan langsung ke Ketua Dewan Pembina (SBY) dan beliau mengerti alasan yang saya sampaikan. Bila pergantian dilakukan saat itu, tidak pas momentumnya. Karena itu, Rapimnas menjadi momentum yang tepat untuk pergantian sekjen. Yang perlu diingat, pengunduran diri ini merupakan inisiatif diri saya bukan karena desakan dari pihak lain, baik di internal partai maupun eksternal.

Jadi tugas sebagai sekjen sekaligus ketua DPR cukup berat?
Kita tahu kalau ketua DPR tidak hanya mengurusi urusan yang kecil atau segelintir orang. DPR merupakan wadah aspirasi dari suara rakyat dan lingkup nasional. Di DPR ada 9 partai yang lolos pemilu legislatif. Sebagai ketua DPR, saya harus mengurusi 9 partai yang berbeda setiap hari. Kalau saya tetap menjadi sekjen, dikhawatirkan salah satu tugas itu akan terbengkalai. Kedua jabatan itu sangat menguras pikiran, waktu dan tenaga saya. Saya tidak mau malah berantakan semuanya kalau tetap memaksakan diri untuk tetap duduk di posisi sekjen.

Sekjen partai bertugas menyelenggarakan seluruh administrasi partai melalui surat menyurat dan mendistribusikannya. Selain itu, dia harus melayani seluruh informasi kepada segenap pengurus organisasi, khususnya yang ada di daerah. Karena fungsi dan tugas itu, seorang sekjen harus menyediakan waktu yang lebih ekstra. Saya sulit memberikan waktu ekstra kepada partai karena kesibukan di DPR telah sangat menyita waktu dan perhatian saya.

Benarkah hubungan Anda dengan Ketua Umum Hadi Utomo sudah tak harmonis?
Tidak benar, kalau ada yang mengatakan bahwa saya sudah tak ada kecocokan dengan ketua umum. Sampai saat ini, komunikasi saya selaku pribadi dengan ketua umum masih terjalin baik dan intens. Setiap akan melaksanakan hal yang berhubungan dengan partai, kami selalu berkoordinasi satu sama lain.

Bila ada perbedaan pendapat, sangat wajar. Karena itu adalah proses demokrasi. Yang penting, jangan sampai perbedaan itu menimbulkan perpecahan. Ini tak pernah terjadi antara saya dengan ketua umum. Kita tetap menghargai pendapat masing-masing.

Setelah tak lagi jadi sekjen, apa posisi Anda di partai?
Saya ditawari jabatan sebagai Dewan Pembina Partai Demokrat bersama-sama dengan Pak SBY. Menurut saya, posisi itu justru tantangan yang sangat besar untuk dijalankan.
Bagi saya, jabatan tak terlalu penting bila sudah berniat berjuang untuk partai dan rakyat. Saya tidak mempermasalahkan hal tersebut (jabatan). Ada atau tidak (jabatan), saya akan tetap berjuang dengan segenap kemampuan yang saya miliki meski tak bisa lebih ekstra dibandingkan sebelumnya.

Anda digantikan oleh Amir Syamsuddin. Bagaimana penilaian Anda terhadap mengenai sosok Amir?
Di partai kami, banyak kader potensial yang pantas untuk duduk di posisi sekjen, termasuk Amir Syamsuddin. Kenapa Amir Syamsuddin yang ditunjuk? Selain karena kualitas dan kemampuannya yang sudah tidak diragukan, kebetulan dia tidak menjadi anggota DPR. Dengan demikian, dia bisa konsentrasi dan fokus mengurus partai, terutama menjelang kongres dan pilkada.

Benarkah Anda akan mencalonkan diri menjadi ketua umum di kongres nanti?
Seperti yang saya katakan tadi, banyak kader yang berpeluang untuk menjadi pimpinan termasuk ketua umum.

Siapa yang nanti akan menggantikan Hadi Utomo belum ada pembicaraan ke arah situ. Sebab, kami semua tak terlalu memandang jabatan adalah alat penting untuk berjuang. Ada atau tidak ada jabatan sudah menjadi kewajiban setiap kader partai untuk berjuang demi partai dan rakyat.

Masih terlalu diri bisa membicarakan nama-nama yang duduk di posisi ketua umum. Masih samar-samar. Biarlah kader yang memutuskan nanti. Toh, mekanismenya pemilihannya akan kepada pengurus, baik pusat maupun daerah. Jadi, kalau dia ingin maju tapi tak dipilih oleh kader kan tidak bisa jadi ketua umum.

Yang perlu saya sampaikan, kemungkinan besar Pak Hadi Utomo tak akan maju karena dia mengatakan kepada saya bahwa dia hanya ingin sekali saja menjadi ketua umum. Biar proses regenerasi tetap berjalan di internal partai bila terjadi pergantian ketua umum.


KOMENTAR ANDA

Nama Tidak Boleh Kosong

Email Tidak Boleh Kosong

Komentar Tidak Boleh Kosong

Nama :
Email :
Komentar :
Total : 1000