Dr. H. Marzuki Alie
Chairman of
The 2nd World Ecological Safety Assembly 2012 (WESA)
Perubahan iklim telah menghadirkan berbagai dampak dalam kehidupan manusia, baik yang terjadi di negara-negara maju maupun di negara-negara berkembang. Fenomena alam yang luar biasa menuntut adanya respons positif secara global, mengingat dampak yang ditimbulkannya juga berskala global. Inilah yang menjadi alasan utama diselenggarakannya
The 2nd World Ecological Safety Assembly 2012 (WESA) di Bali pada 9-12 Desember 2012 dan dihadiri sekitar 500 delegasi, diantaranya adalah pejabat-pejabat negara, mantan ketua parlemen dan tokoh pemimpin dari berbagai negara.
Salah satu masalah besar yang muncul dalam satu dekade terakhir ini adalah perdebatan mengenai perubahan iklim, siapa yang seharusnya memulai upaya mengatasi perubahan iklim beserta dampak yang ditimbulkannya. Perdebatan menjadi berlarut-larut dan tidak tuntas, karena perbedaan pendapat antara dua kelompok kepentingan, yaitu kelompok negara-negara maju dan kelompok negara-negara berkembang.
Kelompok negara maju sebagai sumber penghasil gas rumah kaca, di masa lalu maupun sekarang, dituntut menjadi yang pertama kali mengurangi emisinya. Mereka tidak memberikan respon positif, karena menurunkan emisi berarti menghambat pertumbuhan ekonominya, sehingga ide pengurangan emisi yang menjadi pesan utama protokol Kyoto menjadi sia-sia. Sementara, menempatkan tanggungjawab perubahan iklim kepada negara-negara berkembang, juga bukanlah pilihan yang tepat dan mendapat resistensi yang kuat. Negara-negara berkembang akan terus melanjutkan pembangunan ekonominya meskipun beresiko tingkat pertumbuhan emisinya akan meningkat pula.
The 2nd World Ecological Safety Assembly 2012 yangdiinisiasi
International Eco-Safety Cooperative Organization (IESCO), yaitusebuah lembaga internasional yang berafiliasi dengan United Nations (PBB), dilatarbelakangi oleh pemikiran bahwa, krisis ekologi di seluruh dunia telah mengancam kelangsungan hidup manusia dan pembangunan. Menjaga keselamatan lingkungan, mengantisipasi bencana alam, antisipasi terhadap krisis dan bencana ekologi yang tak terduga, merupakan hal yang penting. Kehadiran para pemimpin dan tokoh dunia dalam pertemuan WESA ini adalah untuk membicarakan berbagai permasalahan tersebut dan mencari solusinya.
Ada banyak masalah lingkungan hidup yang terjadi saat ini, seperti pemanasan global, polusi, penggundulan hutan, hilangnya keanekaragaman hayati, makanan yang tidak aman, krisis pangan, krisis energi, dan lain-lain. Untuk itu, diperlukan cara untuk mengendalikan krisis sumberdaya, menyeimbangkan pembangunan sosial-ekonomi dan konservasi ekologi bagi generasi sekarang dan masa depan, dan bagaimana memperkuat kemitraan antara negara maju dan berkembang.
Salah satu tujuan WESAadalah menjaga keselamatan ekologi
(ecological safety), melindungi lingkungan, mendirikan organisasi keamanan ekologi internasional, menciptakan mekanisme peringatan dini dan bersama-sama mengatasi bencana ekologi.
The 1st World Ecological Safety Assemblytelah dilaksanakan di Kamboja pada Desember 2010, dan telah dihasilkan
Angkor-Protokol, yang memuat berbagai kebijakan tentang lingkungan hidup. Pada
The 2nd World Ecological Safety Assembly 2012 di Bali, dihasilkan kesepakatan yang lebih strategis dan segera dapat diterapkan oleh seluruh negara.
Permasalahan lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya dengan melibatkan pihak-pihak tertentu saja, tetapi memerlukan kerjasama pemerintah, parlemen, partai-partai politik, LSM, lembaga keuangan dan kelompok-kelompok perusahaan, untuk mencapai pembangunan yang menyeimbangkan antara ekonomi, masyarakat dan lingkungan.
Melindungi ekologi, menjaga lingkungan, mencegah polusi, dan mengantisipasi berbagai bencana alam, tentu menuntut tanggung jawab bersama (
common responsibility). Kebersamaan itu memerlukan kesamaan cara pandang
(vision) dan
platform yang sama, agar tercapai keseimbangan hidup yang harmonis antara masyarakat dan lingkungan. Dialog antara profesional dan akademisi, partai politik, parlemen, pemerintah, LSM, perusahaan, lembaga keuangan dan seluruh pemangku kepentingan, sangat diperlukan. Untuk itulah,
WESA ini juga amat diperlukan bagi perluasan jaringan bagi parlemen, partai politik, profesional, akademisi, lembaga keuangan ataupun perusahaan, untuk mempromosikan kerjasama ekologis yang aman.
Melalui pertemuan WESA di Bali, para peserta telah memperlihatkan keperduliannya terhadap ancaman kerusakan ekologi akibat eksploitasi yang berlebihan. Seruan agar masyarakat dunia memanfaatkan SDA sesuai dengan daya dukung yang dimilikinya perlu dilakukan karena masa depan pemeliharaan lingkungan hidup menjadi tanggungjawab semua pihak. Parlemensebagai legislator diharapkanmampumenghasilkanperangkatperundangan-undanganyang menjaminbahwapemanfaatan SDA akanberlangsungsecaraberkelanjutan.
Kewaspadaan terhadap Lingkungan
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Kondisi geografis Indonesia juga unik, karena terletak di antara Benua Asia dan Australia, dan Samudera Pasifik dan Hindia. Indonesia terbentang di wilayah lingkaran api
(ring of fire), yang setiap saat harus waspada terhadap berbagai bencana alam seperti letusan gunung api dan tsunami. Indonesia juga tercakup dalam dua alam biogeografis utama, yaitu Indomalaya dan Australasia dengan Garis Wallace di antaranya.
Karena faktor geografis, topografis dan iklim, Indonesia memiliki ekosistem yang beraneka ragam, antara yang hidup di laut, pantai, sampai dengan yang berada di kawasan gambut dan hutan. Dengan kondisi alam yang demikian, Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa. Sepuluh persen dari species bunga dunia ada di Indonesia, 12% hewan menyusui di dunia ada di Indonesia, 16% binatang reptil dan ampibhi dunia juga berada di Indonesia, 17% dari aneka burung dunia ada di Indonesia, dan sedikitnya 25% dari aneka ikan dunia berada di Indonesia. Disamping itu, pulau Kalimantan dan Sumatera merupakan habitat dari hewan yang dilindungi, yaitu orangutan dan harimau Sumatera. Laut Indonesia yang meliputi kawasan seluas 33 juta hektar, menyimpan 450 species batu karang. Perekonomian Indonesia sangat bergantung dari ekosistem sumberdaya alam yang terkandung didalamnya, yang sekarang ini sedang mengalami ancaman terhadap keberlangsungannya.
[1]
Dengan berbagai fenomena tersebut, Indonesia harus senantiasa waspada terhadap masalah lingkungan, termasuk memperbaiki model pembangunan, agar lebih kuat tanpa harus mengorbankan lingkungan.Setiap tanggal 5 Juni, kita selalu memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Tema
Green Economy, dengan pertanyaan kunci,
Does It Include You?, telah ditetapkan oleh United Nations Environment Programme (UNEP).
Di Indonesia, tema itu telah disesuaikan menjadi
“Ekonomi Hijau; Ubah Perilaku, Tingkatkan Kualitas Lingkungan”. Tema ini saya nilai penting dan berorientasi ke masa depan, karena ekonomi hijau yang dimaksud disini adalah pembangunan untuk mencapai tiga sasaran besar yaitu,
ekonomi terus tumbuh dan
memberikan lapangan kerja serta mengurangi kemiskinan, tanpa mengabaikan perlindungan lingkungan. Karenaitu, pelestarian sumber daya alam mempunyainilai yang sangat strategis bagi implementasi pembangunan yang berkelanjutan di Indonesia. Di sadari bahwa,saatini laju degradasi sumber daya alam dan lingkungan jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan laju kemampuan manusia melakukan upaya perbaikan.
Pemerintah Indonesia berupaya menerapkan prinsip ekonomi hijau sesuai dengan karakteristik, kondisi, dan kebutuhan bangsa dalam berbagai bentuk kebijakan, perencanaan dan program, di berbagai sektor pembangunan. Parlemen Indonesia juga amat mendorong terwujudnya upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim, pengelolaan hutan, laut dan pesisir secara lestari, yang dilanjutkan dengan pengembangan energi bersih dan energi terbarukan yang ramah lingkungan.
Perubahan model pembangunan ke arah Ekonomi Hijau ini sudah menjadi komitmen Indonesia, yang tercermin dari rencana penurunan emisi Gas Rumah Kaca melalui pembangunan ekonomi rendah emisi karbon. Pendekatan pembangunan ekonomi tersebut merupakan lompatan besar untuk meninggalkan praktek pembangunan ekonomi masa lalu, yang mementingkan keuntungan jangka pendek tapi mewariskan berbagai permasalahan lingkungan.
Strategi ini menekankan dan memadukan aspek "pertumbuhan kesejahteraan" dan “pelestarian lingkungan” yang didukung melalui Instruksi Presiden mengenai Rencana Aksi Nasional untuk menurunkan Gas Rumah Kaca, Intruksi Presiden tentang Efisiensi Energi, Instruksi Presiden tentang Moratorium Hutan dan Keputusan Presiden tentang Satgas Pemberantasan Mafia Hukum.
Penerapan konsep Ekonomi Hijau juga membutuhkan perubahan paradigma dan gaya hidup yang menghasilkan perasaan adil di antara berbagai kelompok masyarakat, sekaligus memberikan penghematan dan peningkatan daya guna ekonomi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dimaknai dengan pentingnya melakukan perubahan paradigma pembangunan dan perilaku warga masyarakat, termasuk di dalamnya dalam kegiatan produksi dan konsumsi yang mampu meningkatkan kualitas lingkungan hidup.
Ekonomi Hijau juga dimaknai sebagai kemampuan untuk melibatkan rakyat secara produktif dalam pembangunan yang berkelanjutan yang diimplementasikan sesuai arah pembangunan yang
pro-environment. Hal ini memerlukan kerja sama semua pihak untuk membuatnya menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari. Dimulai dari hal-hal sederhana yang dapat kita lakukan, misalnya hemat air dan energi, serta menanam pohon.
Kesimpulan
Dari apa yang saya uraikan tersebut, dapat disimpulkan bahwa,
pertama, perubahan iklim merupakan masalah dunia karena dampaknya dirasakan oleh semua negara di dunia, dan menjadi tantangan paling besar yang harus dihadapi oleh masyarakat dunia. Para pembicara dalam Sidang WESA, telah menekankan kepada berbagai hal, tidak semata-mata hanya kepada dampak dari perubahan iklim dan respon internasional, tetapi juga menginginkan perlunya kerjasama internasional yang harus lebih ditingkatkan terutama di dalam aturan-aturan dan pelaksanaan yang harus dijalankan berkaitan dengan ecological safety. Pada akhir pertemuan WESA ke-2, para peserta juga telah mendeklarasikan
World Ecological Civilization Declarartion and Ecological Safety Action, yang selanjutnya dibawa ke masing-masing negara.
Kedua,berbagai upaya harus juga dilakukan, bukan hanya menyangkut bagaimana menghentikan pemanasan global secepatnya, tetapi juga bagaimana mengantisipasinya agar ke depan tidak lagi menjadi masalah besar bagi negara-negara di dunia.
Ketiga, antisipasi ini penting, karena terkait kebijakan setiap negara terhadap pola-pola pembangunan yang hendak dijalankan. Hal ini berarti bahwa, pembangunan juga harus mempertimbangkan dengan polusi udara karena adanya penggunaan bahan bakar fosil.
Terakhir, kedepan, semua negara sekarang ini dituntut untuk menjalankan kebijakan di bidang ekonomi yang ramah lingkungan, yang lebih mengedepankan teknologi baru yang tidak lagi bergantung pada bahan bakar fosil.Di samping itu, dituntut pula untuk mempertimbangkan pola-pola adaptasi yang disesuaikan dengan tingkat kerentanan masyarakatnya.
Indonesia sangat berkepentingan terhadap masalah ini. Oleh karena itu, Indonesia terus berupaya mengedepankan etika lingkungan dalam setiap pembangunan ekonomisebab kekayaan sumber daya alam Indonesia bukan hanya untuk generasi masa kini tetapi juga yang akan datang.*
[1] Drs. Humprey Wangke MSI, Mencari Solusi Atas Perubahan Iklim, P3DI DPR-RI, 2011.