Sosok dan Sketsa Jakarta | Jurnal Nasional, Jum'at, 02 Okt 2009
9 Pertanyaan untuk Marzuki Alie:
Mulailah dengan Kepercayaan 100 Persen
"HARI esok harus lebih baik daripada hari ini," kata Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI periode 2009-2014, Marzuki Alie, tentang prinsip hidupnya. Politisi yang selalu terlihat low profile ini yakin prinsip hidupnya itu dapat mengilhaminya bekerja maksimal memperbaiki kinerja Lembaga Wakil Rakyat. Bahkan, ia secara tegas menuturkan, kewajiban seorang khalifah (pemimpin) di muka bumi adalah memberikan manfaat yang lebih baik lagi kepada umat, rakyat, dan negara.
Politisi dari Partai Demokrat kelahiran Palembang 54 tahun silam ini optimistis lembaga yang dipimpinnya akan mampu merespons koreksi dan kritik dari masyarakat terkait kelemahan kinerja DPR selama ini. Berbagai kritik dan koreksi dari masyarakat dianggapnya sebagai masukan yang sangat positif.
"Saya tidak ingin melihat bagaimana DPR yang lalu dikritik oleh tokoh-tokoh masyarakat dan pengamat. Tapi, yang saya lihat adalah kritik dan koreksi itu akan dikembangkan untuk melakukan penyempurnaan agar memberikan manfaat bagi umat dan negara," katanya saat berbicang-bincang dengan Jurnal Nasional di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (30/9) lalu. Berikut ini petikan wawancara Jurnal Nasional dengan Ketua DPR RI, Marzuki Alie seputar visi, misi, agenda kerja dalam memimpin DPR lima tahun mendatang.
1. Selamat, Anda mendapat kepercayaan dari DPP Partai Demokrat menjadi Ketua DPR RI periode 2009-2014. Apa cita-cita Anda selanjutnya?
Lembaga parlemen merupakan salah satu lembaga negara, di samping lembaga kepresidenan, Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Mahkamah Konstitusi, dan lembaga negara lainnya. Kalau ditanya tentang cita-cita, tentu saja ada. Sebelum masuk DPR, saya punya cita-cita. Taruhlah, dulu sebagai anggota DPR biasa, saya ingin memberikan manfaat untuk warga masyarakat yang memilih saya dan semaksimal mungkin ingin berbuat dan berkontribusi untuk kepentingan yang lebih besar sesuai dengan bidang yang ada, misalnya bidang pengawasan atau anggaran.
2. Apa harapan Anda setelah menjadi Ketua DPR RI?
Kebetulan saya direkomendasi oleh DPP Partai Demokrat dengan Surat Nomor 387/RKMD/DPP/9/2009 tanggal 30 September 2009, yang isinya menugaskan saya untuk mewakili Partai Demokrat duduk sebagai Ketua DPR RI Periode 2009-2014. DPP PD juga menunjuk Anas Urbaningrum sebagai Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI.
Sebagai Ketua DPR, tentu berbeda cita-cita sebagai anggota DPR. Ketua DPR berperan sebagai juru bicara lembaga DPR itu dengan sendirinya. Kepemimpinan DPR itu kan bersifat kolegial-kolektif terhadap para pemimpin DPR yang ada. Ada pemimpin DPR dari Golkar, PDIP, PKS dan PAN. Tentu warna DPR ke depan sangat dipengaruhi oleh bagaimana kerja sama para pemimpin DPR dan dukungan dari seluruh anggota DPR yang terpilih pada pemilu legislatif lalu.
3. Mayoritas anggota DPR sekarang adalah wajah baru, ada yang menyangsikan kinerja DPR ke depan tak lebih baik daripada sebelumnya?
Saya punya keyakinan bahwa wajah-wajah yang baru dengan semangat yang baru, akan mampu merespons koreksi-koreksi, kritik-kritik dari masyarakat dan pengamat tentang kelemahan-kelemahan DPR. Saya yakin respons mereka akan lebih baik, dengan semangat yang baru, anggota baru dan tenaga muda yang jauh lebih banyak akan memberikan warna tersendiri. Oleh karenanya, saya merasa yakin, ke depan anggota DPR mampu mengimplementasikan tugas pokok dan fungsinya sebagaimana ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan.
4. Bagaimana seharusnya sikap kita terhadap wajah-wajah baru di DPR?
Saya mengajak warga masyarakat agar berkeyakinan bahwa saudara-saudara kita yang terpilih sebagai anggota legislative akan bekerja dengan baik. Akan memikul amanah dengan sebaik-baiknya. Akan melaksanakan tugas dan kewajiban mereka dengan sebaik-baiknya. Jadi mulailah dengan kepercayaan 100 persen kepada kawan-kawan yang saat ini duduk di DPR untuk bekerja. Itu modal yang kuat, sebagai motivator bagi kami semua anggota Dewan untuk bekerja.
Agak susah manakala baru bekerja sudah dicurigai. Belum bekerja saja sudah dikritik sebagai lembaga yang kurang amanah, lembaga yang menjadi corong pemerintah, dan sebagainya. Saya berharap kita mulai dengan kepercayaan 100 persen.
5. Anda terkesan sebagai pribadi yang tidak ambisius?
Saya punya konsep hidup tidak mengejar jabatan. Jabatan itu adalah amanah dari Tuhan, yang diberikan melalui atasan kita, tokoh kita, dan yang diberikan oleh masyarakat kita. Itu semua dari Tuhan, dari Allah. Saya yakin itu. Jadi, kenapa kita harus bermanuver dan sebagainya? Ya, kerja saja dan memenuhi kewajiban dengan baik. Nantinya Tuhan akan melihat bahwa orang ini, kerja, ikhlas, bekerja dengan sabar, loyal, punya komitmen. Tuhan tidak akan mengingkari janjinya. Siapa yang bekerja, dia akan menuai hasilnya. Kalau kita yakin, Tuhan itu baik dan tidak mengingkari kita, maka tidak perlu kita khawatir tentang jabatan.
6. Apakah sebelumnya Anda pernah membayangkan menjadi Ketua DPR?
Sampai dua bulan yang lalu, saya tidak terpikir untuk menjadi Ketua DPR. Tidak terpikir dan tidak punya mimpi. Makanya, ketika muncul pertanyaan-pertanyaan dari media, saya jujur menyampaikan adalah wewenang pemimpin untuk menilai siapa yang paling siap untuk memimpin lembaga (DPR) ini.
Saya ingin menyampaikan, jangan tanya kepada kader. Kalau tanya kepada kader, apakah siap memimpin lembaga DPR, pasti 150 orang akan mengatakan siap. Tapi, siap atau tidak itu ditentukan oleh orang lain. Orang lainlah yang menilai. Di situlah saya baru berpikir bahwa di situ ada jabatan Ketua DPR. Kok ramai orang memperebutkannya ya. Saya tidak pernah memperebutkan Itu. Saya bekerja saja sebagaimana biasa. Bekerja sesuai penugasan. Kalau ada urusan partai, kalau dipanggil Ketua Umum saya hadir. Dikejar wartawan saya tidak tertarik, makanya suara saya di media tidak muncul. Amanah itu, tidak boleh dikejar.
7. Apakah hubungan dengan keluarga, kolega, sahabat terganggu setelah Anda menjabat Ketua DPR?
Saya sudah biasa bekerja keras. Bekerja tiga kali 24 jam itu sudah biasa. Meninggalkan rumah untuk bekerja, kadang-kadang ditelepon tengah malam, itu sudah biasa. Jadi bukan suatu hal yang baru bahwa masuk di lembaga ini akan mengubah kehidupan saya sebelumnya. Saya yakin tidak akan berubah karena saya sudah biasa bekerja keras. Mungkin yang agak berbeda, selama ini saya langsung menerima telepon secara langsung siapa pun, baik yang ada nama, tidak ada nama, biasa saya mengangkat sendiri handphone saya.
Mungkin setelah pelantikan, karena jadwal yang padat, memimpin persidangan dan sebagainya, saya belum tahu bagaimana mengatur waktu untuk itu. Saya ingin menyampaikan kepada teman-teman yang sebelumnya mudah berkomunikasi dengan saya, dan nantinya agak terhambat komunikasinya mohon dimaklumi. Mudah-mudahan kalau ada waktu kosong saya kontak lagi. Insya Allah saya tetap seperti biasa. Jadi, tidak ada hal-hal yang perlu dikhawatirkan akan ada perubahan total pola hidup saya.
8. Apa kiat Anda sebagai politisi yang sukses, tapi juga sukses membangun rumah tangga?
Modal pertama adalah kepercayaan. Memang hubungan suami-istri itu ada saja yang namanya istri cemburu karena saya banyak kegiatan di luar. Itu hal yang wajar saja. Namun, bagaimana memikul kepercayaan itu dengan sebaik-baiknya. Yakinlah bahwa kalau kita mampu melaksanakan kepercayaan dengan baik, insya Allah komunikasi tetap baik, dan juga tidak akan terjadi sesuatu yang menimbulkan masalah sehingga kita tidak bisa bekerja dengan baik. Saya yakin apa yang akandidapatkan dari hasil kerja keras. Bagaimana kita bisa kerja keras dan kerja baik kalau kepergian kita dicurigai? Modalnya kepercayaan. Komunikasi harus tetap dengan keluarga sesibuk apa pun kita. Telepon atau SMS harus tetap dilakukan.
9. Apa makanan kesukaan Anda?
Biasanya, saya suaka semua makanan. Tapi, ada yang lebih saya senangi, siput dan udang. Saya juga suka daging, kambing dan sapi. Untuk pempek karena dibesarkan di lingkungan Palembang sejak kecil, maka bila beberapa hari tidak makan pempek, rindu pun muncul untuk makan pempek. Kalau soal tempat makan, saya relatif tidak terlalu banyak memilih, yang penting sehat dan bersih. Kadang-kadang di pinggir jalan pun kalau bersih saya makan saja, Jadi, di mana saja.