Rakyat Merdeka Online, Jumat, 30 Oktober 2009, 00:59:41 WIB
Marzuki Alie : Bila Tidak Bermanfaat Saya Akan Minta Berhenti
Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat Marzuki Alie ditetapkan partai berlambang mercy sebagai Ketua DPR periode 2009-2014. Sejak keputusan tersebut tersiar ke publik, banyak kalangan yang meragukan kemampuan Marzuki memimpin DPR. Apalagi, tantangan DPR ke depan cukup berat. Citra parlemen buruk di mata publik. Beberapa hari setelah ia dilantik sebagai Ketua DPR, ia membatalkan beberapa kesempatan Raker dengan Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II. Apa alasannya?
Pembatalan raker Komisi IX dengan Menkes telah memunculkan protes terhadap Anda. Bagaimana Anda menyikapinya?
Ya meski beberapa hari ini pemberitaan “menghajar” saya, saya hanya bisa mengucapkan alhamdulillah. Saya bersyukur, ini ujian mental bagi saya. Kalau tidak diuji dengan ini, saya tidak akan matang. Tapi dengan diuji seperti ini, saya semakin matang dan semakin mantap.
Semenjak saya jadi ketua DPR dan sibuk menjalani tugas, saya hampir tidak punya waktu untuk menonton TV atau baca koran yang numpuk di atas meja.
Nah ketika pulang dari kantor, biasanya saya bawa beberapa koran ke rumah. Pas sampai rumah dan sebelum tidur saya baca koran-koran itu, kadang-kadang saya mengucap subhanallah, alhamdulilah. Kadang astaghfirullah. Kadang juga allahu akbar, he-he-he... Saya dibilang aroganlah. Kapan saya arogan? Saya hanya bisa istighfar saja. Semuanya saya kembalikan kepada Yang Maha Kuasa.
Anda dinilai membuat keputusan sepihak dengan membatalkan raker tersebut?
Dalam keputusan, sifat kolegial kolektif itu tetap ada. Artinya satu permasalahan, lima orang (pimpinan) harus tahu. Nah, pada saat ada undangan itu, kita tidak tahu. Kita bertanya-tanya.
Benarkah Anda menelepon sekretariat Komisi IX untuk membatalkan rapat kerja dengan Menkes?
Tidak benar. Itu bohong. Saya tidak pernah menelepon sekretariat apalagi mendatangi sekretariat untuk membatalkan rapat.
Pak Marwoto Mitrohardjono yang menandatangani surat pemanggilan Menkes. Lalu Pak Marwoto sendiri yang memutuskan menunda rapat.
Jadi Anda tidak bermaksud menghambat raker Lomisi IX dengan Menkes?
Tidak ada itu. Saya hanya memberikan wawasan kepada kepada pimpinan DPR yang membidangi masalah Kesra bahwa rapat-rapat di DPR ada mekanismenya. Yakni dijadwalkan dulu dalam rapat Bamus DPR.
Nah, karena rapat Bamus belum dilakukan, maka apa jadinya kalau DPR sudah melangkah. Jadi, saya tidak membatalkan rapat, saya hanya ingin yang terjadi di DPR ini terkonsep. Jadi lebih baik ditunda supaya pelaksanaannya lebih baik.
Apakah ada intervensi dari pemerintah untuk membatalkan raker?
Tidak ada intervensi dari pemerintah. Dan saya tidak pernah berhubungan dengan Menkes. Menkes baru dilantik. Komisi juga baru dibentuk. Rencananya baru dibuat. Bamus belum rapat sudah memanggil-panggil. Memanggil itu tujuannya untuk apa?
Saya harus meluruskan ini semua, supaya ada struktur, ada konsep, ada rencana. Sehingga kita bisa kontrol, oh ini agendanya. Sehingga tidak terjadi ada ayat-ayat yang hilang, karena apa? Karena semuanya terukur, ada agendanya. Jadi, kapan disahkan, kapan diserahkan ke pemerintah, itu semuanya terukur.
Nah kalau itu misalnya bisa kita kerjakan dengan baik, maka saya yakin DPR menjadi lembaga yang bisa menjadi harapan rakyat Indonesia, lembaga yang bisa disejajarkan kualitasnya dengan eksekutif.
Bagaimana konsep yang terencana yang Anda maksud?
Tadi (kemarin—red) sudah semua. Rencana kerja masing-masing komisi disiapkan, jadwal kerjanya sudah disahkan di Bamus.
Nah, setelah itu kita serahkan ke komisi, silakan kerja.Jadi, kita tidak berniat untuk membatalkan. Artinya rapat itu ditunda supaya persiapannya lebih baik dan sesuai mekanisme.
Siapa lagi yang menghargai mekanisme kalau bukan kita. Bamus saja belum rapat, belum memutuskan jadwal masing-masing komisi, sudah panggil sana, panggil sini. Substansi memanggil itu apa?
Saya tidak ingin kita mengundang menteri ke DPR hanya untuk ngabisin waktu, substansi belum jelas, agendanya belum jelas, programnya apa.
Nah, ini yang ingin saya dudukkan dengan benar supaya kerja lembaga ini betul-betul ada hasilnya. Pemikiran-pemikiran itu yang saya bawa ke lembaga ini.
Saya hanya ingin meluruskan jalannya parlemen ini. Jadi tidak ada keinginan saya yang macam-macam. Kalau saya tidak bermanfaat di sini, ya saya berdoa berhenti cepat saja. Benar saya berdoa seperti itu kalau saya ini tidak bisa memberikan manfaat.
Saat saya melaksanakan ibadah haji, saya berdoa agar di sisa hidup ini saya mampu memberikan maslahat bagi umat, keluarga saya, bagi masyarakat dan bangsa. Itu doa saya. Saya tidak pernah berdoa menjadi sekjen (Partai Demokrat) dan jadi ketua DPR.
Jadi, dengan amanah ini (Ketua DPR) saya berjuang keras supaya bagaimana amanah ini bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Saya dulu PNS, tapi karena merasa tidak bermanfaat, saya mundur. Saya lalu kerja di BUMN saya minta berhenti tapi tak pernah dikabulkan sejak zaman Menneg BUMN Laksamana Sukardi dan Soegiarto. Baru ketika era Sofyan Djalil saya diberhentikan.
Setelah peristiwa ini bagaimana hubungan Anda dengan Ketua Komisi IX Ribka Tjiptaning?
Saya tak marah pada Ribka yang menyatakan saya arogan. Saya anggap ini sebagai proses belajar dalam berdemokrasi dan berorganisasi.
Saya ini tidak alergi dengan kritik, selagi kritik itu membangun, ya silakan.