Update: Untuk mendapatkan berita-berita terupdate website marzukialie.com bisa men update melalui twitter kami @marzukialie dan untuk komunikasi langsung dengan Dr. H. Marzuki Alie bisa melalui twitter kami @marzukialie_MA
profile marzuki alie Demokrat

TULISAN

KEDAULATAN DAN KEPEMIMPINAN BAGI PEMBANGUNAN INDONESIA
Oleh : Dr. H. Marzuki Alie
REFLEKSI AKHIR TAHUN 2013
Oleh : Marzuki Alie Center
INOVASI KREATIF MASYARAKAT INDONESIA
Oleh : Dr. H. Marzuki Alie
Komitmen Antikorupsi Parlemen ASEAN
Oleh : Oleh Dr. H. Marzuki Alie
Kemandirian Inovasi dan Iptek bagi Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Oleh : Oleh Dr. Marzuki Alie

PENCARIAN

ALBUM


DAPATKAN BUKU YANG SUDAH DITANDATANGANI OLEH MARZUKI ALIE untuk palestine Liga Pendidikan Indonesia

MA MENJAWAB

WAWANCARA DENGAN MAJALAH ISTANA

Maret 2012 yang lalu, Majalah ISTANA mewawancarai Ketua DPR Dr. Marzuki Alie untuk liputan headline majalah tersebut bulan April. Majalah ISTANA yang terbit dengan judul “Marketing Politik Ala Marzuki Alie” mengulas tentang kiprah Ketua DPR dan berbagai hal mengenai kegiatan pribadinya. Berikut ini, redaksi marzukialie.com, mempublikasikan kepada pembaca hasil wawancara tersebut.
Tanya (T): Bisa cerita singkat sejarah awal perkenalan dengan SBY?
Jawab (J):Saya mengenal SBY sewaktu beliau menjabat sebagai Menkopolkam, pada awal 2003. Saya masuk Partai Demokrat dari Sumatera Selatan. Saya diajak oleh seorang kader Partai, termasuk pendiri Partai Demokrat di Sumatera Selatan, Saudara Sarjan Tahir. Saat itu, kebetulan saya memimpin pengajian di kediaman mantan Gubernur Sumatera Selatan, Bapak H. Ramli Hasan Basri. Nah, pada waktu pengajian itu, Saudara Sarjan memperkenalkan adanya Partai Demokrat. Tawaran tersebut, tepat momentum, mengingat saya sendiri sebenarnya sudah ada keinginan untuk masuk partai, karena pada saat yang sama saya merasa didzalimi oleh partai yang sedang berkuasa waktu itu.

Ketika ditawari, saya segera menghimpun informasi tentang perkembangan Partai Demokrat dan SBY, hingga kemudian saya diajak untuk bertemu dengan SBY di Hotel Novotel Bogor. Pertemuan itu hanya dihadiri oleh beberapa elit Demokrat, antara lain Prof. Dr. Budhi Santoso, Ventje Rumangkang dan prof. Dr. Irsan tandjung. Saya dengar pidato beliau, di situlah saya mulai tertarik. Pak SBY itu bicaranya enak, sederhana, santun, sistematis, cerdas melihat ke depan, visioner.

Akhirnya saya bergabung dengan Partai Demokrat di Palembang sebagai Majelis Pertimbangan Partai (MPP). Pada saat saya menduduki MPP, saya diminta Saudara Sarjan sebagai ketua think-thank dari Partai Demokrat Sumatera Selatan. Pada saat itulah, kemudian saya mencoba menulis tentang Partai Demokrat, dari tulisan itu saya buat bahan presentasi dan saya sampaikan pada saat Training of Trainers (TOT) Partai Demokrat Sumatera Selatan. Hasil TOT itu saya sempurnakan lagi beberapa kali dengan data yang lebih lengkap. Berikutnya, Saudara Sarjan membawa saya ke Kantor Menkopolkam dan bertemu beberapa kali dengan Pak Kurdi, berdiskusi tentang keberadaan Partai Demokrat, sampai pada suatu kesempatan diberikan waktu untuk mempresentasikan tentang Partai Demokrat di hadapan Pak Yasin dan terakhir dihadapan Pak Sudi Silalahi.

Kemudian, karena tulisan tersebut dianggap bagus, saya diajak ke Cikeas, dan disitulah saya pertama kali mengenal SBY secara lebih dekat, dan seterusnya.
 
(T): Sebelum masuk Senayan, apa pandangan anda dengan lembaga DPR RI?
(J): Terus terang saya sampaikan, bahwa saya awam politik. Saya tidak mengerti politik, baik ilmu maupun praktek politik. Saya hanya disibukkan dalam tugas-tugas saya, baik di perusahaan maupun usaha-usaha yang saya miliki. Setahu saya sepanjang sejarah Orde Baru, DPR dikuasai oleh Partai tertentu saja dan setiap kampanye diwajibkan untuk memenangkan partai tersebut dengan menggunakan dana perusahaan, ini terus berlangsung hingga akhirnya terjadi reformasi.

Saya melihat bahwa lembaga DPR Pasca Reformasi orang-orangnya arogan. Orang-orang DPR yang berkunjung ke daerah maunya ngatur, nada mereka keras, marah-marah, dan tidak punya etika sama sekali didalam membangun komunikasi dengan kami sebagai abdi negara melalui BUMN. Itulah DPR yang saya kenal sebelum saya masuk di lembaga ini secara penuh.
 
(T): Ketika pertama kali masuk Senayan, pernahkah terlintas menjadi Ketua DPR?
(J):Saya sampaikan bahwa, saya tidak pernah bermimpin untuk menduduki jabatan publik, apalagi jabatan yang begitu tinggi. Karena selama perjalanan hidup saya, saya bekerja dibayar berdasar kemampuan profesional yang saya miliki. Namun dunia itu pada akhirnya harus saya tinggalkan tatkala saya dijegal secara politis untuk menduduki jabatan tertinggi di BUMN sebagai Direktur Utama. Pada akhirnya saya terjun dadalam dunia politik praktis.

Setelah melalui proses yang relatif pendek dalam karir politik, saya dipercaya sebagai Sekjend Partai Demokrat hasil Kongres I tahun 2005. Memasuki Pemilu Legislatif 2009 yang pada awalnya tidak ada niat untuk ikut mencalonkan diri sebagai anggota DPR, namun untuk memberikan motivasi dan dorongan kepada teman-teman saya sesama pengurus Partai Demokrat, dan  mengingat UU Pemilu yang menetapkan anggota DPR terpilih dengan suara terbanyak, akhirnya saya mencalonkan diri sebagai anggota DPR. Kebetulan saya satu-satunya dari Pimpinan Partai yaitu Ketua Umum Hadi Utomo, Wakil Ketua Umum Prof. Dr. A. Mubarok, yang mencalonkan diri.

Saya maju sebagai calon anggota DPR dari Dapil III DKI Jakarta, terdiri dari Jakarta Barat, Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu, yang sebenarnya bukan daerah yang saya kenal. Saya sedikit sekali mempunyai waktu untuk berkampanye. Saya hanya berkampanye dengan menggunakan sahabat-sahabat yang pernah saya bantu, membangun jaringan, dan kemudian sekali-kali saya turun berkampanye dan mengkampanyekan Partai Demokrat. Melakukan aktifitas sosial, seperti penyemprotan nyamuk Demam Berdarah dengan swakelola, yaitu dengan membeli peralatan/mesin fogging, obat, dan membayar tenaga kerja yang menjalankannya. Tentunya aktifitas ini bekerjasama dengan RT setempat.

Dan saya cukup beruntung, akhirnya mendapat amanah sebagai anggota DPR periode 2009-2014.
Pada saat saya menjadi anggota DPR tersebut, tidak sedikitpun saya bermimpi untuk menjadi Ketua DPR. Namun, tiga bulan menjelang pelantikan, saya diundang Ketua Dewan Pembina SBY, dimana pada saat itu beliau sudah terpilih sebagai presiden untuk jabatan kedua. Saya dipanggil ke Cikeas, dimana pada pertemuan pertama, beliau menyampaikan bahwa beliau juga menentukan siapa yang akan menjadi Ketua DPR. Saat itu, beliau menjelaskan ada tiga calon, tapi tidak menjelaskan ketiga calon itu siapa. Beliau bercerita tentang perjalanan saya sejak masuk Partai Demokrat sampai dipercaya menjadi sekretaris Pilpres SBY-Budiono. Memberikan arahan dengan menyampaikan, pertama, kebaikan-kebaikan saya dan kelemahan-kelemahan saya.

Saya dinilai pekerja keras, rasional, bertanggungjawab dalam melaksanakan tugas tanpa pamrih. Namun, satu hal yang beliau anggap kurang pas adalah bahasa saya bukan bahasa politik, sering menyinggung orang meskipun benar. Beliau menyatakan, itu yang harus diperbaiki ketika masuk dunia politik.

Kedua, informasi bahwa saya mempunyai klik-klik atau kelompok-kelompok juga. Namun, saya tidak merasa mempunyai kelompok-kelompok meskipun dalam dunia politik itu sah-sah saja. Maka, untuk hal ini, saya tidak melakukan sesuatu yang perlu saya tindaklanjuti, karena saya memang tidak pernah membangun kelompok-kelompok atau klik-klik itu.

Beberapa saat kemudian, saya dipanggil kembali, beliau menyampaikan bahwa calon tinggal dua orang. Saya dikasih tahu, bagaimana menjadi ketua lembaga negara, baik dalam kehidupan sehari-hari dan sebagainya, termasuk cara berpakaian. Beliau menyampaikan perjalanan beliau bagaimana mempersiapkan diri sebagi presiden, cara berpidato dan sebagainya. Karena ini petunjuk beliau, saya akhirnya belajar, walaupun sebenarnya saya biasa berpidato didepan karyawan, tetapi karena ini konteksnya adalah politik, maka saya harus banyak belajar.

Kemudian terakhir beliau menyampaikan, Ketua DPR nanti akan ditentukan pada saat Pelantikan. Beliau akan menyampaikan kepada DPP siapa yang akan menjadi Ketua DPR.

Meskipun calon masih dua orang, beliau memerintahkan kepada Saudara Andi Malarangeng yang saat itu masih staf khusus beliau, untuk mengambil bahan-bahan dari sekjend DPR untuk saya pelajari. Artinya, ini hanya masalah waktu saja, beliau akan menunjuk saya sebagai Ketua DPR, yaitu agar saya memiliki kesempatan untuk mempelajari bahan-bahan, bagaimana memimpin rapat DPR walaupun saya tidak tahu persis bagaimana memimpin lembaga ini.

Akhirnya beliau menyampaikan keputusan tersebut saat sedang bertugas di Amerika, bersamaan dengan pelantikan anggota DPR periode 2009-2014, bahwa saya ditunjuk menjadi Ketua DPR.
 
(T): Setelah terpilih menjadi Ketua DPR, apa visi misi anda mengingat periode 2004-2009 banyak anggota masuk tahanan KPK?
(J):Pada saat saya ditetapkan sebagai Ketua DPR, langkah pertama adalah mempelajari semua peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang tugas pokok, fungsi dan kewenangan sebagai Ketua DPR. Termasuk Tata Tetib yang mengatur secara rinci aturan-aturan, rapat-rapat, dan mekanisme kerja DPR.

Berikutnya, saya mencoba memetakan bagaimana posisi DPR dalam pandangan publik, mengingat lembaga ini sebagai representasi dari rakyat yang memilihnya. Hasil survey salah satu media yang terkemuka sangat mengagetkan saya, bahwa sepanjang perjalanan reformasi, tingkat keprcayaan publik kepada DPR semakin menurun, dan puncaknya menjelang berakhirnya DPR periode sebelumnya, hanya sekitar 24%.

Bersama beberapa staf P3DI-DPR (Pusat Pengkajian, Pengolahan Data, dan Informasi), kami membuat SWOT analisys. Agar analisis tersebut bermanfaat untuk perbaikan, saya mengajak semua yang terlibat dalam diskusi tersebut untuk menutupi kelemahan-kelemahan yang ada.

Untungnya pada saat yang sama, DPR periode sebelumnya telah membuat Rencana Strategi (Renstra) DPR sampai masa jabatan berakhir belum dapat diselesaikan, ibaratnya orang ngantuk dikasih bantal. Renstra tersebut akhirnya diselesaikan oleh BURT dengan dibantu beberapa perguruan tinggi negeri. Saya bermimpin­­­­­­­­­, DPR periode ini lebih kredibel daripada periode sebelumnya. Artinya kredibel, masyarakat makin percaya kepada DPR, minimal 50%, atau paling tidak meningkat dari 24% pada saat saya masuk.

Renstra tersebut akhirnya disahkan di Paripurna. Dalam Renstra inilah tercantum jelas, visi, misi lembaga, serta program untuk mencapai visi tersebut.
 
(T): Banyak pesimisme dari kalangan dewan dan publik, ketika anda menjadi Ketua DPR. Bagaimana upaya mengatasi pandangan tersebut?
(J):Saya kira adalah hal yang wajar, bahwa ada pesimisme publik terhadap saya, karena saya tidak pernah berada di wilayah politik. Saya tidak mempunyai pengalaman politik yang panjang, tidak punya pendidikan politik. Namun saya yakin, dan saya bersyukur bahwa pesimisme ini akan menjadi optimisme. Artinya, dengan adanya anggapan pesimis itu, justru akan mudah bagi saya untuk membangun optimisme, daripada orang optimis terhadap saya tetapi saya justru tidak bisa membuktikan optimisme mereka. Pesimisme mereka ini akan saya tunjukkan menjadi optimisme mereka kepada saya.

Dalam memimpin DPR, saya berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, yaitu UU MD3 dan Tata-Tertib DPR. Tatib DPR inilah yang menjadi acuan dalam saya memimpin DPR, baik selaku Pemimpin DPR maupun saya selaku Pimpinan Alat Kelengkapan Dewan. Di DPR, dinamikanya sangat tinggi, seringkali saya dianggap melanggar Tatib yang ada, namun saya buktikan bahwa saya tidak melakukan hal demikian.

Selain itu, saya ingin menunjukkan bahwa, justru di negara-negara seperti China atau Korea Selatan (Korsel), pemimpin-pemimpin politiknya umumnya tidak sebagai pemimpin politik sejak muda. Umumnya, mereka masuk dalam dunia politik setelah mereka berkecimpung dalam dunia profesional, seperti di BUMN ataupun perusahaan-perusahaan milik Pemerintah. Ketua Parlemen China Wu Bangguo, atau Presiden Hu Jintao, tidak berpendidikan politik, tetapi sebagai engineer. Wu Bangguo itu Insinyur Elektro, pernah memimpin suatu power plan, kemudian perlahan masuk ke dunia politik. Ini wajar saja, sehingga umumnya politisi China ini umurnya 60-an tahun. Di Korea Selatan juga, Perdana Menteri Korsel itu adalah pemimpin perusahaan yang membangun tol Jagorawi pertama kali. Artinya, mereka maju dan berkarir di dunia politik setelah mereka sukses pada dunia usaha yang mereka geluti sebelumnya.

Mengacu pada pengalaman mereka itulah, saya yang pernah memimpin BUMN yang tidak kecil dan memimpin organisasi-organisasi sosial, yakin bisa membawa gerbong DPR ini dan merespon pesimisme dari kalangan publik dan DPR. Dan alhamdulillah dalam dua tahun ini, kepercayaan anggota kepada saya cukup baik, wibawa saya sebagai Ketua DPR dihadapan mereka cukup baik, ini menunjukkan bahwa apa yang saya lakukan sudah on the right track.
 
(T): Latar belakang sebagai pengusaha, adakah kesulitan memimpin anggota yang mayoritas berlatar belakang aktivis/kader parpol dan berbagai profesi lainnya?
(J):Saya hampir lima tahun menjadi Sekjend Partai Demokrat. Saya banyak belajar memimpin orang-orang politik. Intinya orang-orang politik itu semuanya mau berbicara dan maunya didengar, meskipun tidak semuanya dilaksanakan. Bagaimana mereka harus didengar dan ditampung, dari sinilah saya banyak belajar.

Sebagai profesional di BUMN dan pengusaha, saya selalu mengedepankan demokrasi dalam mengambil keputusan. Saya mendengar masukan dan pandangan dari bawah, dan sesudah itu saya mengambil keputusan. Berbeda sebagai Ketua DPR. Mengambil keputusan di DPR itu tidak bisa diambil sendiri oleh Ketua DPR. Baik dalam Rapat Pimpinan, Rapat Alat Kelengkapan Dewan, tentu saya harus taat azas dalam proses pengambilan keputusan. Awal-awalnya mungkin mengalami kesulitan, karena kebiasaan saya mengambil keputusan setelah mendengarkan pandangan orang lain, sementara disini saya harus mengambil keputusan berdasarkan kesepakatan. Tetapi saya yakin, berdasar pengalaman saya sebagai profesional, saya mampu melaksanakan kepemimpinan di lembaga sebagai pilar demokrasi ini.
 
(T): Dibanding Ketua DPR-RI sebelumnya, anda memiliki karakteristik paling berbeda. Berbagai pernyataan lugas, tanpa tedeng aling-aling, hingga menyulut kontroversi di publik, yang tidak sedikit meminta anda mundur. Akankah tetap mempertahankan gaya kepemimpinan tersebut?
(J):Prinsip dasar saya adalah, bagaimana bahasa yang saya sampaikan itu bisa ditangkap dan direspon dengan baik sehingga menjadi solusi. Saya punya pengalaman bagaimana mengemas bicara atau bagaimana menyenangkan orang, nyatanya tidak ada yang merespon, dianggap hal yang biasa saja.

Hidup adalah pilihan, termasuk pilihan kata-kata, mengingat DPR perlu reformasi dan aspirasi rakyat harus diperjuangkan, oleh karenanya saya harus bicara secara lebih lugas agar direspon orang dengan baik, sehingga bergulir dan menjadi wacana publik kemudian sasaran bisa dicapai. Misalnya pada saat pembangunan gedung DPR yang dibicarakan banyak orang, kalau saya melaksanakan saja apa yang telah diputuskan yaitu membangun gedung baru, negara akan dirugikan hampir satu triliun. Namun dengan bahasa yang lugas dan transparan, walaupun saya dianggap berfikir ekonomi semata, dan sebagainya, akhirnya orang tahu bahwa saya berusaha agar harga itu bisa diturunkan serendah rendahnya, kalau memang tidak bisa diturunkan sebagaimana harga sewajarnya, maka sebaiknya dibatalkan saja.
 
(T): Apa upaya anda untuk membenahi citra lembaga DPR yang terus merosot?
(J):Pertama, saya membenahi kehumasan, bagaimana kehumasan ini mampu bekerja dengan baik, mampu berperan membangun citra lembaga ini dengan baik. Terus terang saat saya masuk DPR, Humas adalah lembaga yang menurut saya, kurang memberikan peran apapun untuk membangun citra DPR yang baik.

Beberapa hal yang saya lakukan untuk membangun Humas ini, antara lain membenahi bulletin mingguan, majalah bulanan. Juga membenahi format kerjasama dengan beberapa media elektronik, adalah bagian dari proses membangun kehumasan yang dapat membangun citra DPR. Termasuk membangun Web DPR yang multifungsi, baik untuk mensosialisasikan produk-produk DPR, juga untuk menampung aspirasi masyarakat luas.

Kedua, bahwa DPR terbagi dalam dua institusi, yaitu Kesekjenan sebagai lembaga pendukung dan DPR sebagai lembaga politik. Tidak mungkin citra ini dibangun hanya dengan membangun Kehumasan saja tanpa membenahi lembaga pendukung dan lembaga politik tersebut.

Pembenahan terhadap lembaga pendukung sudah dinyatakan secara jelas dan tertulis dalam Renstra 2010-2014. Sedangkan Lembaga Politik merupakan kewajiban partai politik untuk berperan dan mengambil tanggungjawab, khsusnya terhadap kader-kader partai yang ditempatkan di DPR sebagai kepanjangan tangan partai. Berkaitan dengan kinerja DPR, selain sangat tergantung kepada individu anggota DPR dan dukungan lembaga pendukung, Pimpinan DPR tidak bosan-bosannya untuk selalu mengkoordinasikan semua alat kelengkapan dalam mencapai target-target yang telah ditetapkan.
 
(T): Dalam setiap menjalankan berbagai intrik-intrik anggota DPR dalam berbagai kasus Partai Demokrat belakangan ini, adakah anda meminta masukan dari Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat?
(J): Sebagai kader partai demokrat tentu kami diminta dan meminta masukan. Tetapi karena ini masalah internal partai, tidak perlu disampaikan ke publik.
 
(T): Banyak kasus sejak akhir tahun, yang menjatuhkan pamor lembaga DPR, meskipun kasus itu berasal dari Setjen DPR. Adakah upaya atau rencana untuk mereformasi birokrasi lembaga DPR agar tidak mengimbas kepada anggota-anggota DPR, jika Setjen mengeluarkan kebijakan?
(J): Saya sampaikan tadi, bahwa dalam Renstra, kami akan mereformasi Kesekjenan. Saat ini, Struktur Kesekjenan sangat lebar dan Sekjen sangat powerfull, dan tidak ada pengendalian sama sekali. Kedepan, kami akan bagi dalam tiga fungsi, pertama fungsi teknis yaitu Badan Fungsional Keahlian, kedua, fungsi administratif yaitu oleh Kesekjenan itu sendiri, dan ketiga adalah fungsi pengawasan yaitu Badan Pengawas Internal.

Mudah-mudahan, dengan pembagian tiga fungsi ini, maka terjadi built and control dalam proses kinerja Kesekjenan ini kedepan. Oleh karenanya, kedepan jika lembaga-lembaga ini telah berfungsi efektif, maka Sekjen tidak lagi mengurusi masalah teknis DPR, tetapi mengurusi administratif saja. Untuk mengawasi kinerja Kesekjenan ini, nanti ada pengawas internal.
 
(T): Tak tercapainya target legislasi tahun 2011, disebabkan banyaknya anggota dewan yang merangkap tugas di alat kelengkapan lain atau setiap kegiatan Baleg sering berbenturan dengan Komisi. Bagaimana mencari solusi agar target Baleg 66 RUU atau tiga RUU setiap komisi, bisa tercapai?
(J): Sebetulnya, realisasi legislasi tahun 2010 lebih baik dari tahun 2005. Yaitu tahun pertama kinerja DPR periode lalu dan tahun pertama periode sekarang. Tahun kedua, tahun 2011 juga lebih baik dari tahun 2006. Namun, kami belum puas karena target yang sedemikian tinggi, meskipun sebetulnya, kalau supporting sistem sudah direformasi, target legislasi ini tidak terlalu berat. Kalau supporting sistem sudah bekerja baik, anggota DPR hanya pelengkap dari supporting sistem, dan hanya bicara pada konten politiknya saja. Namun harus disadari juga bahwa dalam menyelasaikan suatu RUU tidak hanya tergantung pada DPR, tetapi juga kepada co-legislator, yaitu Pemerintah. Tanpa dukungan dan kerjasama Pemerintah, produk legislasi ini tidak mungkin dapat diselesaikan dengan baik.
 
SOAL PRIBADI :
(T): Dibanding sebelum menjadi Ketua DPR, berapa jam tersisa untuk keluarga dalam satu hari?
(J): Saya terbiasa bekerja keras, dan kalau tidak bekerja, mungkin malah menjadi sakit. Sejak dulu saya terbiasa bekerja keras, ketika menjadi Sekjend, bahkan sampai jam dua malam saya kerjakan. Tetapi saya mencoba mengatur kerja, paling tidak jam duabelas malam sudah tidur.

Dalam keluarga, tidak ada masalah. Kadang kami berempat tidur bersama kalau diperlukan, kadang
makan bersama.
 
(T): Adakah keluhan dari keluarga, khususnya anak-anak? Bagaimana cari memberikan penjelasan dan solusinya?
(J): Saya pikir mereka sudah tahu, bahwa saya sudah masuk dunia politik. Mereka harus siap mental, karena resikonya saya dihujat, dimaki. Akhirnya mereka sudah terbiasa. Waktu kerjanya juga sudah dipahami.

Kalau mereka memang mengikhlaskan saya bekerja di dunia ini, saya akan lanjutkan, kalau memang tidak diikhlaskan bekerja di dunia politik ini, saya akan berhenti. Tetapi sampai sekarang mereka tidak komplain, sampai saya bisa meneruskan kerja di dunia politik.
 
(T): Setelah keluar kota atau keluar negeri menjalankan tugas negara, berapa lama anda bisa menahan tidak bertemu dengan anak-anak? Setelah bertemu, liburan kemana?
(J): Saya biasa tidak bertemu dan bertemu, di dalam negeri ataupun dari luar negeri sama saja. Sekarang teknologi informasi sudah canggih, kita bisa komunikasi kapan saja, bisa kirim photo dan seterusnya. Tidak ada hari khusus bagi keluarga, misalnya jalan-jalan dan seterusnya, kecuali kalau memang ada hari kosong. Tapi saya tetap memberi ruang yang besar pada anak-anak, sebagaimana orangtua saya memberikan ruang yang besar kepada saya dulu.
 
(T): Adakah anjuran kepada anak-anak, untuk ikut masuk dalam dunia politik? Atau sebaliknya mengikuti dunia bisnis?
(J): Saya tidak menganjurkan, tetapi kalau mereka sudah sukses dalam dunia bisnis, boleh saja mereka masuk dalam dunia politik. Jangan dunia politik ini dijadikan sebagai alat untuk mencari pekerjaan, sebab politik ini pengabdian. Kalau mereka sudah tidak berfikir lagi soal dapur mereka, saya berikan hak sepenuhnya pada anak-anak saya untuk masuk dunia politik.
 
(T): Padatnya kegiatan ketua DPR dan partai, adakah resep khusus anda menjaga stamina dan kebugaran tubuh? Dengan olahraga atau jamu, atau multivitamin?
(J): Saya tidak pernah minum jamu atau multivitamin, saya mencoba hidup normal saja. Aktivitas saya penuh, kalau ada waktu kosong saya olahraga. Saya yakin dengan kegiatan olahraga rutin, sholat tepat waktu, adalah bagain dari olahraga dan tubuh akan disehatkan.
 
(T): Dalam keseharian, lebih sering tinggal di kediaman pribadi atau rumah dinas?
(J): Saya lebih senang tinggal kediaman pribadi, walaupun rumah saya tersebut sangat sederhana, hoe sweet home. Rumah dinas hanya untuk kegiatan dinas saja. Selebihnya saya tinggal di rumah pribadi.
 
(T): Adakah orang yang paling berjasa, hingga membuat anda bisa seperti sekarang ini?
(J): Saya yakin bahwa ini adalah takdir, dan ini adalah qoda dan qodhar, salah satu rukun iman yang saya percayai. Tetapi saya yakin takdir tidak datang sendiri, tapi ada jasa seseorang. Pak SBY-lah yang sangat berjasa hingga saya menjadi Ketua DPR seperti saat ini. Tetapi juga Mantan Ketum Partai Demokrat Hadi Utomo, cukup banyak membangun ketangguhan saya dalam dunia politik yang penuh intrik. Tentunya keluarga merupakan hal yang paling utama.
 
(T): Dengan menjadi ketua DPR, apakah anda sudah merasa lengkap riwayat hidup anda? Jika belum, apa target atau obsesi setelah ini? Capres?
(J): Saya tidak pernah bercita-cita terlalu tinggi, saya tidak berfikir kapan pengabdian saya ini berakhir. Kalau berakhir ya berakhir. Banyak tempat yang bisa dijadikan tempat mengabdi, bisa jadi dosen, guru, dan sebagainya. Saya tidak pernah berfikir kedepan menjadi apa. Yang penting bagaimana saya bisa menjalankan amanah ini sebaik-baiknya.
 
(T): Setelah tidak menjadi Ketua DPR atau kancah politik, apa rencana anda berikutnya?
(J): Saya akan menjadi pengamat saja, saya akan menulis mengkritisi semua hal yang tidak baik, dan kembali ke kampus, menjalankan semua usaha yang saya miliki, termasuk kerja sosial yang memberikan kemaslahatan bagi orang banyak.*


KOMENTAR ANDA

Nama Tidak Boleh Kosong

Email Tidak Boleh Kosong

Komentar Tidak Boleh Kosong

Nama :
Email :
Komentar :
Total : 1000

Wahab
Juni 8 2012 , 08:49
Saya baru tau ternyta Bang MA adalah senior saya di HMI. Yakusa. Salam Tatanan Abdi Negara