Update: Untuk mendapatkan berita-berita terupdate website marzukialie.com bisa men update melalui twitter kami @marzukialie dan untuk komunikasi langsung dengan Dr. H. Marzuki Alie bisa melalui twitter kami @marzukialie_MA
profile marzuki alie Demokrat

TULISAN

KEDAULATAN DAN KEPEMIMPINAN BAGI PEMBANGUNAN INDONESIA
Oleh : Dr. H. Marzuki Alie
REFLEKSI AKHIR TAHUN 2013
Oleh : Marzuki Alie Center
INOVASI KREATIF MASYARAKAT INDONESIA
Oleh : Dr. H. Marzuki Alie
Komitmen Antikorupsi Parlemen ASEAN
Oleh : Oleh Dr. H. Marzuki Alie
Kemandirian Inovasi dan Iptek bagi Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Oleh : Oleh Dr. Marzuki Alie

PENCARIAN

ALBUM


DAPATKAN BUKU YANG SUDAH DITANDATANGANI OLEH MARZUKI ALIE untuk palestine Liga Pendidikan Indonesia

RESENSI

Kontribusi Islam Terhadap Pemikiran Politik Barat

Images

JUDUL:Kontribusi Islam Terhadap Pemikiran Politik Barat
PUBLISHER:Universitas Indonesia Press (UI Press), September 2012.
WRITER:Dr. Abdul Mutaali M.Ip.
CONTENT:SAMBUTAN KETUA DPR-RI Dr. Marzuki Alie

Sebagaimana dicatat oleh sejumlah ilmuwan sejarah di Barat seperti Bertrand Russel, Kenneth Clark dan sebagainya, bahwa warisan peradaban yang menjadi “soko guru” dan pondasi peradaban Barat Modern dewasa ini adalah peradaban Greco-Roman (Yunani dan Romawi) dan Judeo-Christian (Yahudi dan Kristen). Peradaban Barat Modern saat ini diklaim sebagai kelanjutan (continuity) dari kedua peradaban tersebut. Klaim tersebut memang memiliki pijakan empiris dan historis. Tradisi rasionalisme, empirisme, demokrasi, seni, keagamaan sampai desain-desain arsitektur Barat dewasa ini, menunjukkan kuatnya pengaruh tradisi Yunani dan Romawi. Demikian pula dengan agama Yahudi dan Kristen yang berkembang di Barat, telah meletakkan dasar-dasar intelektual dan filosofis.

Namun sebagian ilmuwan sosial lain di Barat, juga mengakui kontribusi peradaban Islam yang demikian signifikan terhadap hadir dan berkembangnya peradaban Barat hingga dewasa ini. Bahkan ilmuwan sosial seperti Edward Said, intelektual keturunan Palestina yang bermukim di Amerika Serikat hingga wafatnya, dalam karya magnum opusnya “Orientalism” (1978) mengkritik sejumlah kajian ilmuwan sosial Barat yang menyembunyikan fakta terkait dengan kontribusi Islam tersebut. Barat memandang Timur, termasuk terutama peradaban Islam, hampir selalu dari kacamata kepentingan politik. Itulah yang menyebabkan realitas sejarah peradaban Islam yang sangat kontributif bagi kehadiran dan pertumbuhan peradaban Barat tertutup oleh analisis-analisis ilmuwan Orientalis yang sarat kepentingan.

Karenanya dapat dipahami, manakala Prof. Dr. Ahmad Suhelmi dalam “Pemikiran Politik Barat” (2001), menambahkan peradaban Islam sebagai salah satu pilar dari dua peradaban lain (Greco-Roman dan Judeo-Christian). Kontribusi peradaban Islam, terutama yang merentang dari zaman klasik hingga zaman pertengahan Islam (medieval Islam), yaitu antara periode setelah wafatnya Rasulullah SAW (awal abad VII) hingga sekitar abad XII dimana intensitas perjumpaan Islam dan Barat amat intens, sangat penting untuk ditelaah kembali. Sebagaimana dipaparkan oleh Prof. Harun Nasution dalam “Pembaharuan dalam Islam” (1975), peradaban Islam mencapai puncak kejayaannya, ketika Barat masih berada pada, apa yang mereka sebut Zaman Kegelapan (The Dark Age).

Peradaban Islam, tidak saja menyumbangkan dasar-dasar yang kokoh bagi pengembangan ilmu kedokteran, perbintangan, matematika, kimia, fisika, biologi, sejarah, sosiologi hingga kesusastraan. Peradaban Islam bertabur bintang ketika itu, dari Ibnu Sina, Ibnu-Rusyd, al-Farabi, ar-Razi, al-Khawarizmi, al-Jabbar, Ibnu-Haytam, Jabbir Ibnu al-Hayyan, Umar al-Khayyam, dan sebagainya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi peradaban Islam yang mengagumkan itulah yang kelak menjadi inspirasi Peradaban Barat. Perjumpaan Islam-Barat, dalam berbagai bentuknya, membuat Barat belajar banyak dan berupaya mentransfer kemajuan ilmu dan teknologi Peradaban Islam, yang sayangnya kemudian semakin surut.

Sebagaimana ditegaskan kembali oleh Nurcholish Madjid dalam “Islam, Doktrin dan Peradaban” (1992), Islam adalah agama (ad-dien) yang diturunkan untuk menjadi “rahmat seluruh alam” (ramatan lil-‘alamin). Kehadiran agama ini ke dunia, dimaksudkan untuk membangun sebuah peradaban kemanusiaan yang sesuai dengan fitrah manusia. Sebuah peradaban yang berorientasi pada keyakinan atas adanya kekuasaan Tuhan yang esa, keadilan, kesamaan manusia dan kebebasan, serta penghormatan terhadap nilai-nilai maupun tradisi keilmuan. Nabi Muhammad SAW, berhasil mentransformasikan masyarakat kesukuan Arab yang jahiliyyah, uncivilized, dan barbar, menjadi sebuah komunitas spiritual progresif, beradab dan tercerahkan. Bentuk par excellence komunitas spiritual tersebut adalah terbentuknya masyarakat madani di Kota Madinah.

Tradisi keilmuan dan filsafat sangat dihormati dan dijunjung tinggi oleh komunitas masyarakat Islam. Banyak sekali pengertian, ajaran, perintah maupun anjuran dalam ajaran Rasulullah untuk mengetahui, menuntut, dan mengamalkan ilmu pengetahuan. Kata-kata ilm disebutkan sampai 80 kali dan kata-kata yang terbentuk sari kata tersebut seperti a’lamu, Ya’lamuna, a’lima, yu’lamu, aliim, ‘allaam disebut sampai ratusan kali dalam al-Qur’an, belum lagi jumlah hadits dan anjuran nabi yang tak terhitung jumlahnya.

Para Filosof Muslim tidak segan-segan mengadopsi, menafsirkan secara kritis berbagai warisan dan kekayaan tradisi-tradisi besar yang hidup di kawasan-kawasan baru yang dikuasai. Mereka menyerap tradisi kekayaan filsafat Yunani, Romawi, Persia, India bahkan China. Apa yang baik dan sesuai dengan nilai dan doktrin Islam diterima dengan tangan terbuka, sehingga membuat produk pemikiran mereka makin kaya dan unik. Meskipun demikian, doktrin-doktrin paganisme yang ada, ditolak. Misalnya penolakan Islam terhadap tradisi Hellenisme (Yunani) yang berbeda dengan doktrin Kristiani yang terkontaminasi tradisi paganisme Yunani Kuno.

Kecenderungan untuk menerima filsafat dari berbagai tradisi, khususnya tradisi filsafat Yunani, ditunjukkan oleh filosof Muslim terkemuka seperti Ibnu Rusyd, al-Farabi, Ibnu Sina, dan lain-lain. Mereka mempelajari pemikiran filsafat Plato, Aristoteles, Socrates, dan filosof Yunani Kuno lainnya dengan penuh semangat. Diantara mereka bahkan ada yang menerjemahkan dan menafsirkan ajaran-ajaran para filosof Yunani Kuno itu. Karya-karya terjemahan dan tafsir mereka atas karya-karya filosof Yunani itulah yang kemudian menjadi warisan sangat berharga bagi sarjana Barat yang datang di kemudian hari. Melalui hasil terjemahan dan tafsiran ulama dan filosof muslim itulah, para sarjana Barat kemudian menggali kekayaan tradisi Yunani Kuno. Dari kerja intelektual itulah, Dunia Barat kemudian berhasil “melahirkan” kembali kekayaan tradisi keilmuan dan peradaban Yunani Kuno yang telah tenggelam selama lebih dari empatbelas abad. Inilah yang kemudian dinamakan Zaman Renaissance (the age of Renaissance) di Eropa.

Salah satu contoh terbaik yang berhasil dibuktikan oleh Islam dalam membangun peradaban di Barat, adalah peradaban Islam di Andalusia (Spanyol) pada abad VIII hingga abad XV. Dalam peradaban Islam Andalusia, tidak ada diskriminasi relogio-kultural. Berbagai penganut agama dan tradisi keilmuan memiliki kebebasan penuh untuk saling dipraktekkan. Perintah “tidak ada paksaan dalam agama” (la ikraha fi-ad dien) dan prinsip kebebasan beragama (lakum dinukum wa-liyadien), dimanifestasikan penuh dalam praktek nyata oleh penguasa Muslim Andalusia. Tak heran, berbagai tradisi keilmuan pun ikut tumbuh subur dan saling mempengaruhi, meskipun disini, tradisi keilmuan dalam peradaban Islam begitu kuat bagaikan mercusuar diantara berbagai tradisi keilmuan Barat.

Pada era ini, tradisi Islam juga secara signifikan sangat mempengaruhi peradaban orang Yahudi. Para sarjana, filosof, dan teolog Yahudi, banyak lahir dari hasil didikan para guru Muslim Andalusia. Diantaranya adalah Musa Ibn Maimun atau di Barat dikenal sebagai Maimonides, yang kemudian memberikan kotribusi penting pada lahirnya zaman keemasan Yahudi di era Spanyol Islam. Nama-nama ilmuwan Yahudi seperti Hasdai Ibn Siprut, Abraham Ibn Ezra, Bachya Ibn Pakuda, Judah Halevi dan lain-lain, lahir dan besar di era ini. Meskipun banyak ilmuwan Barat yang tidak mau mengakui, “era keemasan Yahudi” sebenarnya telah lahir pada masa Spanyol Islam ini pula.

Perjumpaan antara Islam dan Barat, yang kemudian keduanya saling mempengaruhi, sesungguhnya juga bukan hanya terjadi pada masa-masa damai. Pada era Perang Salib (crusades) yang dimotifasi oleh banyak faktor misalnya, adalah salah satu bentuk perjumpaan yang memiliki pengaruh besar terhadap Barat. Pada era Perang Salib, Muslim dan para pasukan salib (crusaders) tidaklah selalu dalam posisi antagonistik terus-menerus. Pada masa tertentu terjadi kesepakatan damai di antara kedua pihak dan hidup berinteraksi dalam perdamaian. Para tentara salib sangat tergantung pada kerjasama sosial, ekonomi dan kebudayaan dengan penduduk setempat yang tidak selalu seagama dengan mereka. Mereka dituntut beradaptasi agar tetap eksis karena lama tinggal di kawasan Muslim di wilayah Perang Salib (Timur Tengah), sehingga secara alamiah muncul koloni Kristen.

Interaksi pasukan Salib dan tentara Muslim juga memberikan pelajaran berharga bagi Barat. Gambaran tentang Muslim sebagai musuh, anti-kristus, bengis, biadab, penyembah setan dan sebagainya, sedikit banyak justru berubah tatkala mereka berhubungan intensif setelah mendapatkan kekalahan di Parang Salib. Kekalahan Pasukan Salib atas tentara Muslim pimpinan Salahuddin Al-Ayubbi misalnya, amat merubah pandangan Pasukan Salib terhadap ajaran Islam yang sangat menghormati etika perang. Sebagaimana juga dicatat oleh Kareen Armstrong, “Perang Suci, dari Perang Salib hingga Perang Teluk” (2002), Salahuddin juga mengobati musuh besarnya, dengan mendatangi pemimpin Pasukan Salib, Richard the Lion-Heart yang sedang sakit, hingga disembuhkannya.

Demikianlah, seusai era Perang Salib, tatkala masa-masa damai kembali muncul, pandangan, tradisi keilmuan, dan kemajuan Eropa dimulai kembali. Renaissance Eropa muncul sebagai gerakan kebudayaan di Italia pada sekitar abad XIV hingga abad XVI, mengubah Eropa yang selama berabad-abad sebelumnya, mengalami “abad kegelapan” (The Dark Age). Munculnya era renaissance adalah sebuah momentum sejarah yang menentukan perjalanan sejarah peradaban Barat. Munculnya era renaissance ini, dunia Barat memiliki “mediasi” atau “jembatan” menuju Zaman Pencerahan (The Age of Enlightenment). Pada masa inilah Kristen Barat kemudian muncul nama-nama seperti Giovani Pico della Mirandela, Nicolaus Copernicus, Leonardo da Vinci, dan lain-lain, yang pemikirannya berkembang karena pengaruh Islam. Mereka pulalah yang kemudian disebut “the great renaissance men” yang memiliki pengaruh besar terhadap kelahiran gerakan renaissance Eropa.

Dari penelitian sejarah yang sejauh ini dilakukan, dapat dikatakan bahwa kelahiran Zaman Pencerahan, antara lain disebabkan oleh terjadinya interaksi budaya antara Dunia Islam yang saat itu mencapai zaman keemasannya (great tradition) dengan Dunia Kristen Barat yang peradabannya belum maju (little tradition). Interaksi yang antara lain terjadi karena “asuhan” Dunia Islam di Andalusia dan terjadinya Perang Salib di wilayah Timur Tengah, adalah proses “transmisi” peradaban, yaitu dari Peradaban Islam ke Peradaban Barat.  

Karenanya, sebagaimana ditegaskan kembali Prof. Dr. Ahmad Suhelmi, “The Third Heritage: Kontribusi Islam Terhadap Renaisans dan Pemikiran Politik Barat” (2011), kenyataan yang terjadi dalam interaksi antara Barat dan Islam dalam berbagai kesempatan tersebut, semakin tak terbantahkan. Dan, semestinya ia menjadi bukti bagi ilmuwan Barat yang tidak mengakui pengaruh Islam dalam tradisi keilmuannya. Sebab, sungguhpun mereka tidak mengakui adanya pengaruh Islam dalam tradisi Peradaban Barat Modern, kenyataan bahwa interaksi antar peradaban dimanapun di dunia ini, niscaya akan selalu terjadi.

Mendiskusikan interaksi antar peradaban, memang tidak bisa hanya dilakukan secara parsial, banyak bagian yang masih harus dikaji dan digali demi kepentingan tradisi keilmuan itu sendiri. Dengan demikian, buku karya Dr. Abdul Muta’ali M.Ip. yang diterbitkan secara berseri (trilogi buku) UI Press yang sedang anda baca ini, tentu menjadi penting bagi siapapun, untuk lebih dewasa dalam menyikapi hubungan antar peradaban. Buku yang ada di tangan Anda ini adalah buku yang membahas lebih mendalam terhadap masalah-masalah penting yang banyak terabaikan selama ini, yaitu pengaruh peradaban Islam terhadap budaya Barat yang saat ini dianggap sebagai “budaya dunia”, seperti demokrasi, liberalisme dan kapitalisme.   

Tentu saja saya menyambut baik hadirnya buku ini, dengan harapan agar para mahasiswa di berbagai tingkatan (sarjana, magister, doktor) yang mempelajari pemikiran maupun filsafat politik Barat, dapat menggunakan buku ini sebagai rujukan. Tidak hanya itu, buku ini juga sangat berharga bagi siapa saja yang ingin mendalami kontribusi peradaban Islam terhadap Barat, dan bagaimana prospek hubungan Islam-Barat dewasa ini dan ke depan.

Kepada Dr. Abdul Muta’ali M.Ip. sebagai pengarang, saya memberikan penghargaan yang tinggi atas karya intelektual ini, semoga menjadi amal yang bermanfaat dan mampu mencerahkan wawasan pembacanya secara luas.
Terimakasih.

Jakarta, 14 September 2012
KETUA
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT
REPUBLIK INDONESIA

Dr. H. Marzuki Alie


KOMENTAR ANDA

Nama Tidak Boleh Kosong

Email Tidak Boleh Kosong

Komentar Tidak Boleh Kosong

Nama :
Email :
Komentar :
Total : 1000

sofyan syah
Juli 4 2013 , 12:29
saya mahasiswa ilmu politik UNIMAL.
Agus Dwi
November 8 2012 , 04:12
Saya tertarik dengan tulisan ini. kemungkinan bahwa politik antar-bangsa, antar-peradaban di dunia ini saling bertentangan, tentu akibat kurang ada pemahaman antar peradaban.
Andika Varian
November 2 2012 , 07:23
Keren artikelnnya
Betri Wendra
Oktober 30 2012 , 10:04
Asslamu\'alaikum pak MA... semoga bpk sll sehat dan dimudahkan semua urusan2nya, terutama yg menyangkut kepentingan rakyat. terimakasih pak atas prakata bpk dlm buku yg berharga ini. slm kenal pak.